Inilah Penjelasan Tentang Filosofi Roti Buaya Pada Sebuah Pernikahan No ratings yet.

Image-RotiBuaya-01

 

Homebakery – Inilah Penjelasan Tentang Filosofi Roti Buaya Pada Sebuah Pernikahan.Pernikahan adat Betawi sejak dulu terkenal dengan banyaknya prosesi dan barang seserahan yang harus diserahkan kepada keluarga mempelai wanita. Dari sekian banyak seserahan yang diberikan, sajian kuliner yang satu ini adalah yang paling wajib.

 

Inilah Penjelasan Tentang Filosofi Roti Buaya Pada Sebuah Pernikahan

 

Ya, Roti Buaya. Salah satu hantara penting dalam prosesi pernikahan suku Betawi. Namun ternyata bukan tanpa alasan suku Betawi membawanya sebagai sebuah seserahan penting dalam suatu pernikahan. Sebab, roti ini memiliki filosofi dan makna yang mendalam, khususnya dalam kehidupan rumah tangga.

Bagi suku Betawi, buaya adalah hewan yang telah ada sejak zaman leluhur mereka. Melihat tingkah lakunya, seekor buaya hanya mempunyai satu pasangan seumur hidupnya. Atas kepercayaan inilah, orang Betawi menggunakan buaya sebagai perlambang kesetiaan. Dalam pernikahan diharapkan agar pasangan saling setia.

Selain itu, roti buaya adalah lambang kesabaran, karena buaya selalu sabar dalam mengintai dan menunggu mangsa. Namun, ada juga yang mengartikannya sebagai lambang kejantanan. Selama perjalanan, roti ini harus tetap mulus, tidak boleh rusak sampai ke tangan pengantin perempuan.

Karena sifatnya yang sakral, dalam pernikahan Betawi zaman dulu, ternyata roti tersebut bukan dibuat untuk dimakan, melainkan untuk disimpan. Setelah pernikahan selesai, roti tersebut akan ditaruh di atas lemari pakaian di kamar pengantin dan biasanya roti tersebut akan tahan lama.

Namun pada pernikahan Betawi zaman sekarang, Roti Buaya akan dibagi-bagikan kepada para tamu apabila acara pernikahan sudah selesai. Sedangkan kedua mempelai tidak membawa roti tersebut ke kamar tidur mereka. Para tamu yang datang juga akan menikmati roti dengan mencelupkan ke dalam sirop.

Sejarah roti berbentuk buaya

Selain filosofinya, ternyata bentuk roti yang menyerupai buaya berasal dari mitos yang dipercaya oleh orang Betawi. Jika dilihat dari nilai sejarahnya, seserahan roti buaya sudah berlangsung berabad silam dan sudah ada pada zaman Kolonial Belanda.

Orang Betawi zaman dulu, mempercayai keberadaan makhluk mitos sepasang buaya putih. Buaya ini diyakini menjadi penunggu di sejumlah tempat penting.

Misalnya, Kali Cideng, Kali Lebak Bulus, dan Kali Gunung Sahari. Sepasang buaya putih itu juga dipercaya jadi penunggu di Kali Gunung Sahari dengan nama Ki Srintil dan Ni Srintil.(ita)

(berbagai sumber)

Silahkan Share & Berikan Rating !!

1 Comment

Add a Comment
  1. This condition is pretty tied to the reproductive system and can have several causes like a result of injury or abnormal the circulation of blood inside the testicles. He is content, and the complete opposite of our opinion later years has in store for us.
    https://www.cialissansordonnancefr24.com/cialis-diabete/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@ Copyright By Homebakery Tangerang © 2017
Web Design & Seo By Seotangerang.com
Jasa Seo Tangerang